Friday, September 18News That Matters

Sektor Pertanian Turun Drastis, Petani Berharap ada Bantuan Sumur Bor


KORAN MANDALA –Fenomena musim kemarau panjang yang tengah melanda kawasan Jawa Barat berdampak signifikan terhadap sektor pertanian lokal.

Cuaca ekstrem yang memicu kelangkaan pasokan air membuat para petani terpaksa mengurut dada akibat penurunan hasil panen yang drastis.

Dampak penurunan produksi ini salah satunya dirasakan langsung oleh Yadi (42), seorang petani asal Desa Cangkorang, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Ia mengungkapkan bahwa krisis air yang dipicu oleh kemarau berkepanjangan membuat volume panen pada periode ini merosot tajam dibandingkan musim sebelumnya.

“Dampak kemarau panjang ini, hasil panen jadi berkurang. Terus untuk sedot airnya juga jauh dari Sungai Saguling. Kalau musim kemarau begini, paling cuma dapat seperempat sampai setengah dari hasil pas musim hujan. Beda banget, musim kemarau mah hasilnya sedikit,” ujar Yadi saat ditemui di area ladangnya Kamis 17 September 2026.

Demi menyelamatkan tanaman yang terancam puso (gagal panen), Yadi bersama para petani setempat terpaksa mengandalkan Sungai Saguling sebagai sumber air utama.

Masalahnya, jarak dari sungai menuju area persawahan terbilang cukup jauh. Upaya penyedotan air jarak jauh ini tak hanya menguras tenaga, tetapi juga melipatgandakan pengeluaran operasional akibat melonjaknya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin pompa.

Akses air yang terbatas ini memicu pembengkakan modal yang sangat memberatkan para petani kecil.

Di tengah merosotnya angka produksi, tingginya biaya pengairan menjadi beban ganda bagi para petani di wilayah Batujajar.

Menurut Yadi, untuk satu kali proses pengairan saja, modal yang harus dikeluarkan bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

“Biaya operasional untuk satu kali pengairan ke ladang itu bisa sampai Rp200.000,” jelasnya.

Melihat situasi yang kian memprihatinkan, Yadi dan para petani lainnya kini hanya bisa berharap cuaca segera membaik.

Namun, selain menggantungkan nasib pada faktor alam, mereka menaruh harapan besar pada intervensi langsung dan kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk menghadirkan solusi jangka panjang.

“Harapan saya semoga cepat turun hujan biar petani tidak susah ambil air jauh-jauh. Kalau bisa, pemerintah setidaknya mengadakan satu atau dua titik sumur bor di wilayah ini,” tutur Yadi menyampaikan aspirasi rekan-rekan sesama petani.

Pembangunan infrastruktur fisik seperti sumur bor dinilai menjadi solusi krusial yang sangat mendesak.

Keberadaan sumur artesis tersebut diyakini mampu menjaga produktivitas lahan pertanian di Desa Cangkorang dan sekitarnya agar tetap bertahan, terutama saat menghadapi ancaman krisis air di musim kemarau yang makin tak menentu akibat perubahan iklim.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *