Thursday, September 17News That Matters

The Fed Naikkan Bunga, Bitcoin Ngegas ke US$76.000! Indodax Minta Investor Cermati 4 Faktor Ini


Wacana Berita, Jakarta –

Bitcoin (BTC) justru bergerak menguat setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4% pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 15–16 September 2026.

Keputusan yang diambil secara bulat tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023. Menjelang pengumuman, Bitcoin berada di sekitar US$75.400, kemudian bergerak ke area US$76.000 setelah keputusan diumumkan pada Kamis (17/9/2026).

Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian mengatakan pergerakan tersebut menunjukkan hubungan antara kebijakan moneter dan harga aset kripto tidak selalu berlangsung secara langsung.

“Kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penggerak pasar kripto. Reaksi harga juga dipengaruhi oleh ekspektasi yang sudah terbentuk sebelumnya, arus dana, sentimen, serta perkembangan spesifik di industri kripto,” ujar Aloysia dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).

Menurut dia, kenaikan suku bunga tersebut telah banyak diantisipasi pasar. Dengan demikian, sebagian dampak keputusan The Fed kemungkinan sudah tercermin pada harga Bitcoin sebelum hasil FOMC diumumkan.

“Dalam kondisi ini, kenaikan suku bunga sudah banyak diantisipasi, sehingga sebagian dampaknya kemungkinan telah tercermin pada harga sebelum keputusan diumumkan,” katanya.

Meski Bitcoin menguat setelah keputusan FOMC, arah kebijakan The Fed tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pasar kripto.

Proyeksi terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat kemungkinan adanya kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir 2026. Di sisi lain, bank sentral AS menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 3,7% dari 3,6%, sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi dinaikkan menjadi 2,3%.

Kondisi tersebut menunjukkan perhatian The Fed masih tertuju pada pengendalian inflasi. Namun, arah kebijakan berikutnya belum ditentukan dan akan bergantung pada perkembangan data ekonomi.

Bagi pasar kripto, kondisi tersebut membuat kebijakan moneter perlu dilihat bersama sejumlah faktor lain, seperti likuiditas, arus dana, sentimen pasar, dan perkembangan industri aset digital.

Aloysia mengatakan penguatan Bitcoin setelah keputusan FOMC belum dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh risiko di pasar telah mereda.

“Penguatan Bitcoin setelah FOMC perlu dilihat sebagai dinamika pasar yang lebih luas, bukan sebagai tanda bahwa seluruh risiko telah mereda. Investor tetap perlu mencermati arah inflasi, kebijakan The Fed berikutnya, arus dana institusional, dan kondisi likuiditas global,” ujarnya.

Baca Juga: Bitcoin Rebound ke US$76.331 Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

Baca Juga: The Fed Kerek Suku Bunga 25 Bps, Sinyal Kenaikan Masih Menguat

Baca Juga: Trump Geram! Perintahkan The Fed Segera Turun Suku Bunga AS ke 1%

Selain faktor makroekonomi, dinamika internal industri kripto turut menjadi perhatian. Faktor tersebut antara lain arus dana pada ETF Bitcoin, perkembangan regulasi aset digital, sentimen pasar, serta posisi leverage.

Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat membuat pergerakan aset kripto memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan aset berisiko lainnya.

Indodax mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan reaksi harga dalam jangka pendek. Investor perlu mempertimbangkan profil risiko, mengelola posisi secara disiplin, serta melakukan riset mandiri sebelum melakukan transaksi.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *