
KORAN MANDALA – SPBU BBS di Jalan Raya Babakan Saapan, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB), masih berhenti beroperasi total hingga Kamis (17/9/2026).
Sudah cukup lama warga kehilangan akses ke SPBU yang selama ini menjadi salah satu titik utama pengisian bahan bakar di kawasan tersebut. Penutupan itu merupakan buntut dari insiden kebakaran satu unit minibus saat melakukan pengisian BBM beberapa waktu lalu.
Pantauan di lokasi, Kamis (17/9/2026), menunjukkan area SPBU masih tertutup. Pagar dan barikade dipasang mengelilingi area dispenser BBM sehingga aktivitas pengisian bahan bakar sama sekali belum berjalan.
Persib Datang ke Seoul dengan Masalah Fisik, FC Seoul Justru Waspadai Maung Bandung
Di tengah penutupan tersebut, persoalan baru muncul. Warga Cihampelas kini harus mencari SPBU lain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kendaraan mereka.
SPBU di Kecamatan Batujajar menjadi salah satu tujuan utama warga. Akibat limpahan kendaraan dari Cihampelas, antrean pengisian BBM di kawasan tersebut semakin padat, terutama pada pagi dan sore hari.
Antrean kendaraan bahkan disebut memanjang hingga memakan bahu jalan dan berdampak pada kelancaran lalu lintas di sekitar lokasi.
Cecep (28), warga Kecamatan Cihampelas yang setiap hari melintasi kawasan tersebut untuk bekerja, mengaku harus menyediakan waktu tambahan hanya untuk mengisi BBM.
“Satu-satunya SPBU di kecamatan ini malah ditutup. Saya jadi susah kalau mau isi bensin buat berangkat kerja. SPBU terdekat paling di Batujajar, itu pun harus antre lama karena warga dari Kecamatan Cihampelas pada beralih ke sana semua,” keluh Cecep.
Bagi warga yang menggunakan kendaraan setiap hari, persoalannya bukan hanya jarak. Waktu yang tersita akibat antrean juga menjadi beban tambahan.
Cecep mengaku bisa menghabiskan waktu sekitar 30 hingga 45 menit hanya untuk mengantre BBM. Waktu tersebut menjadi konsekuensi yang harus diterima selama SPBU BBS belum kembali beroperasi.
Sebagian warga kemudian memilih alternatif lain dengan membeli BBM dari pedagang eceran atau gerai Pertashop yang tersedia di sekitar wilayah Cihampelas.
Namun, pilihan tersebut juga tidak sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Harga BBM eceran cenderung lebih tinggi, sementara jenis BBM tertentu tidak selalu tersedia dan terkadang sudah habis sebelum sore.
Situasi tersebut membuat warga berharap ada kejelasan mengenai proses evaluasi dan investigasi pascakebakaran yang menyebabkan SPBU BBS berhenti beroperasi.
Masyarakat meminta pengelola SPBU, PT Pertamina (Persero), serta dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat segera menyelesaikan proses evaluasi dan memastikan aspek keselamatan sebelum SPBU kembali dibuka.
Warga memahami bahwa aspek keselamatan tidak boleh diabaikan. Insiden kebakaran harus menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Namun, warga juga berharap proses administratif dan teknis tidak berlarut-larut. Sebab, selama SPBU BBS tetap tutup, dampaknya tidak hanya dirasakan pemilik kendaraan, tetapi juga mengganggu mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Perbaikan fasilitas yang terdampak kebakaran diharapkan segera dilakukan setelah seluruh prosedur keselamatan dan evaluasi dinyatakan selesai.
“ Saya mah cuma berharap semoga SPBU BBS ini segera dibuka kembali, A. Biar enggak susah kalau mau berangkat kerja dan enggak harus antre panjang lagi di Batujajar,” ujar Cecep.
Bagi warga Cihampelas, persoalannya sederhana: mereka membutuhkan SPBU kembali beroperasi, tentu dengan jaminan keamanan yang memadai. Selama kepastian itu belum ada, antrean BBM dan waktu yang terbuang masih menjadi harga yang harus mereka bayar setiap hari.
